Lanjut ke konten

6 – Jiwa yang Terus Abadi

Lingyan

Aku melahirkan anak perempuan di umurku yang ke tujuh belas, kurang-lebih dua sampai tiga tahun setelah menjadi istri Bao Feng. Sekarang, anak perempuan itu telah menikah dengan seorang laki-laki dari keluarga sederhana. Menantuku itu masih belajar, belum lulus ujian negara. Aku sengaja memilih menantu yang bukan dari keluarga kaya. Lebih baik anakku hidup sederhana tetapi tidak mengalami tekanan sepertiku. Apalagi ia bukan anak dari istri sah yang memiliki nilai tawar tinggi untuk menjadi istri sah dari anak sah keluarga penting. Mudah-mudahan menantuku segera menjadi sarjana dan kehidupan mereka pun membaik.

Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir ini, sang Nyonya Besar sudah meninggal. Karena Bao Feng bukanlah anak dari istri sah, kami semua tetap tinggal di bagian samping rumah utama. Kakak tiri Bao Feng yang kini bertindak sebagai tuan besar. Artinya, sudah hampir dua puluh tahun kiranya aku berstatus selir Bao Feng. Dalam beberapa hari belakangan, Bao Feng sakit dan kini para tabib telah menyerah.

Hari itu, mendadak ia memanggilku dan meminta semua orang pergi. Kami hanya berdua di kamar tersebut dan ia berkata dengan suara pelan, “Ada suatu hal yang selama ini terus kututupi darimu, juga demi kamu.”

Aku menatapnya bingung sedangkan ia berusaha meraih wajahku lalu mengusap pipi kemudian hidungku dengan perlahan. Lelaki ini telah berusaha membuatku mencintainya hingga di waktu ini. Tapi entah mengapa hatiku tetap kosong. Selama ini, selain memikirkan anak gadisku, yang di dalam pikiranku hanya Tong Ge dan Shifu. Untuk mereka bertiga aku membaca kitab dan mendaraskan setiap hari, pagi dan sore.

Lalu ia menghela nafas barulah melanjutkan, “malam itu aku melihat Lingtong masuk kamar Xu Daoshi. Karena penasaran, aku menguping di luar.”

Aku tertarik. Apa yang terjadi pada Tong Ge di malam itu sampai acuh padaku dan pergi tanpa pamit? Ia menatapku lekat membuatku berpikir segala kemungkinan, “Waktu itu, kakakmu pergi bukan untuk menolong Xuanjing.” Aku menganggukkan kepala. Aku sudah cukup lama menduga ada masalah di antara mereka setelah itu. Selagi itu, Bao Feng kembali meneruskan, “Aku sungguh tidak tahu bagaimana menyampaikan padamu selama ini. Aku hanya takut kamu akan terpukul,” katanya lagi dan tentu membuatku semakin penasaran. “Tapi, aku sungguh ingin tahu. Mereka adalah orang penting dalam hidupku.”

“Aku tahu. Aku tahu itu,” katanya muram. “Xuanjing …. Kau dan Lingtong bukan saudara kandung.” Aku membalasnya dengan menatap lekat meminta penjelasan.

“Xuanjing menodai ibumu juga … yang menyebabkan ayah kandung Lingtong meninggal,” lanjutnya. Mendengarnya, seketika aku terbelalak. Aku menggelengkan kepala tak percaya. Aku tahu Shifu di masa lalu bukan pria baik-baik. Tapi bila Shifu adalah ayah kandungku sekaligus yang menyebabkan ayah kandung Tong Ge celaka, aku tak ingin percaya. Bolehkah?

“Feng …,” panggilku berbisik. Ia menungguku dengan tatapan matanya. “Apakah kau bersikeras menikahiku karena tahu siapa ayah kandungku sebenarnya?”

Ia cepat-cepat menggelengkan kepala, “Sejak kau menggantikan Xuanjing duel, aku sudah menyukaimu. Sungguh.” Aku tertunduk. Jelas aku tahu bagaimana ia membelaku bila istri sahnya mencari masalah. Aku ingin punya alasan untuk membencinya. Tapi aku tak punya sedikitpun. Seberapapun acuhku padanya, dia selalu membela kepentinganku.”

“Kau … selalu ingin pulang ke perguruan bukan?” tanyanya. Serta-merta aku menganggukkan kepala. “Tunggulah. Tunggu sampai setidaknya aku dikubur. Maukah?” tanpa kusadari, mataku berair karenanya.

Hanya selang dua hari setelahnya, Bao Feng meninggal. Tak sampai sebulan setelah kematian dia, aku meminta pada Nyonya[1] agar mengizinkan kembali ke perguruan untuk melanjutkan pelajaranku. Tentu dengan senang hati ia melepasku pergi sampai membekali dengan cukup banyak barang untuk biaya hidup di perguruan. Tersiar di antara keluarga besar sampai orang luar bahwa selir kesayangan Bao Feng karena begitu berduka memutuskan membiara. Mungkin mereka memang tak pernah tahu bahwa aku memang pernah di sana bertahun-tahun.

Hari-hari terakhir, anakku menjumpai. Protes dengan keputusanku. Ia berkata, “Aku tahu berita di luar tidak benar. Sepanjang hidup, aku melihat sendiri bagaimana hubungan Aniang dengan Fuqin. Hal itu membuatku semakin bertanya-tanya, mengapa Aniang melakukan itu? Apakah Muqin[2] yang memaksa?” ia tahu hubunganku dengan ibu sahnya tidaklah benar-benar harmonis seperti yang dikira semua orang. Bao Feng terlalu melindungiku, membuat istri lainnya bahkan istri sah merasa iri.

Aku menggelengkan kepala. “Justru Fuqin yang merenggutku dari perguruan, Nak.” Lalu, aku bercerita padanya tentang masa kecilku di sana. “Bila ada waktu kelak, kunjungi aku. Aniang akan mengajakmu pergi ke semua tempat indah yang jarang dilihat oleh orang luar,” kataku di penghujung. Ia terlihat mulai bisa menerima keputusanku.

Dengan dihantar kereta kuda, aku kembali ke perguruan. Hatiku berdegub semakin cepat ketika desa terdekat perguruanku telah kulalui. Bertahun-tahun lampau dengan Shifu, Shishu dan Gege, di sana kami melawan makhluk-makhluk itu dan menyelamatkan orang desa. Desa tersebut sekarang sangat ramai dan damai. Sama sekali tak ada sisa kekacauan dari masa-masa itu.

Menghela nafas, aku meminta kusir memacu lebih cepat. Sungguh, aku tak sabar bertemu dengan mereka yang dulu telah kutinggal pergi. Aku rindu Shigong, rindu para Shishu. Memang ada sekelumit tanda tanya. Bila di sana juga ada Shifu, bagaimana aku harus memanggilnya, Adie, Fuqin ataukah Shifu? Puluhan tahun aku mengenalinya sebagai Shifu, mungkin lidahku akan tak terbiasa memanggil beliau dengan sebutan lain.

Di perguruan, ternyata tak ada lagi Shigong. Shifu juga ternyata tak pernah kembali. Xuanli Shishu yang kini mengepalai perguruan dan mengurus semuanya dibantu dua adik perguruannya sebagai asisten. Dahulu, murid dalam Shigong totalnya lima orang. Kemudian ditambah aku juga Gege yang menjadi murid Shifu. Setelah bertahun-tahun kami tidak kembali, ternyata Shishu mendapatkan tiga orang murid. Sekarang ini aku pulang pada mereka.

-*-

Xuanli

Setelah berpisah bertahun-tahun akhirnya Lingyan kembali. Melihatnya pertama kali, aku merasa tak kenal. Seorang perempuan berpakaian rapi dan bersih dengan hiasan rambut sederhana berdiri anggun depan pintu perguruan. Aku sempat mengira dia adalah nyonya entah dari keluarga pejabat mana. Aku baru mengenali ketika ia memanggilku ‘Shishu’. Suara itu memang berubah jadi lebih dewasa dan keibuan. Tapi nada, kehangatan dan manjanya, tentu aku mengenali. Tak hanya aku, adik-adik seperguruanku pun segera tergesa-gesa menyambut dirinya.

Sepanjang hari itu, dia hanya bercerita dan cerita saja padaku. Ia menceritakan padaku akan Bao Feng dan anaknya, juga … bahwa ia telah mengetahui hubungannya dengan Xuanjing. Aku terdiam sesaat setelah mendengar hal yang terakhir itu. Dia pun bertanya apakah aku sempat berjumpa dengan Xuanjing. Aku mengangguk lalu kataku, “Di dalam penjara Bianjing. Tapi keesokan harinya dia dipindahkan entah ke mana.” Ternyata sampai sejauh ini dia tak pernah bertemu Xuanjing. Bahkan, Lingtong pun ia tak tahu bagaimana kabarnya.

Mati adalah takdir setiap makhluk yang hidup. Akupun tak akan lolos daripadanya. Akan tetapi kami yang melatih diri seharusnya berbeda dengan orang kebanyakan sebab kami juga membina kesadaran. Jadi, aku yakin bila Xuanjing telah meninggal, ia seharusnya dapat dengan mudah memberitahu kami. Terlebih Lingyan juga punya indra yang sangat peka dan bukankah ia tahu Lingyan adalah anak kandungnya? Bila Lingyan pun tak merasakan apapun itu seharusnya berarti Xuanjing masih hidup entah di mana.

Sayang, percakapan kami kemudian tertunda karena ada tamu datang dengan kereta indahnya.

-*-

Xuanjing

Lelaki paruh baya itu kembali datang beberapa hari kemudian. Mendadak ia di depan rumah berdiri entah mungkin tertegun di sana. Dia membawa beberapa buku katanya untuk saya. Tidak enak dengan pemberiannya akhirnya saya persilahkan padanya untuk duduk di balok kayu yang saya perlakukan sebagai bangku di luar rumah.

Lingtong, bila kau sadar siapakah saya, apakah kau akan tetap datang mengajak saya berbincang seperti ini? Itu adalah pertanyaan yang tak akan pernah saya berani ajukan padanya. Saya hanya menyimpannya dalam hati dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dia. Terkadang ia bertanya soal kitab perang, ada kalanya juga menanyakan arti dan penerapan isi kitab taois.

Dalam sebulan ini akhirnya ia menjadi orang yang sering mengunjungi saya. Kedatangannya selalu dengan membawa buah tangan. Itu membuat saya kuatir kelak buah tangan yang ia bawa menarik perhatian para pengawas. Saya takut bila pemerintah tahu Lingtong selalu mengunjungi saya yang tahanan politik ini, karirnya akan berpengaruh. Sekalipun pengawas-pengawas saya itu tidak datang setiap waktu, hari datangnya tidak mengikuti jadwal tertentu.

Hari itu, mereka nyaris bertemu di tempat saya. Mudah-mudahan bila mereka berpapasan di hutan, tak ada kecurigaan akan keberadaan Lingtong di daerah seperti ini.

Setelah hampir setahun seperti itu, pengawas yang datang sekarang selalu lebih dari satu orang. Kebanyakan dari mereka bukan muka yang telah saya kenal. Kemungkinan pemerintah daerah mulai mencurigai bahwa saya ada pertemuan dengan orang luar.

Semenjak itu, saya selalu berusaha menghindari Lingtong. Tak terlalu sulit, membaca keras kitab pun akan membuatnya hanya diam tidak mengetuk pintu ataupun memanggil saya. Bila sore hampir tiba, ia pasti akan pulang dengan sendirinya.

Beberapa bulan kemudian, para pengawas datang. Padahal salju mulai turun di bulan ini dan udara pun mulai mendingin. Kali ini mereka datang dengan banyak orang, mungkin ada lima belas orang. Sungguh tak seperti biasa. Di sisi lain, seperti biasa bila datang, mereka tak pernah mengetuk pintu sebab pengawas yang cukup sopan sudah tidak pernah datang.

Saya sedang mendaraskan kitab, ritual harian di siang hari ketika mereka sudah sampai dalam rumah dengan mendobrak pintu yang tak pernah dikunci karena memang tidak memungkinkan untuk dikunci dari dalam.

Seseorang dari mereka dengan mata jelatatan melihat seluruh ruangan dan memerintahkan orang lainnya untuk menggeledah. “Dari mana buku-buku ini?” katanya menunjuk setumpuk buku pemberian Lingtong. tentu saya tak memberitahukan itu pemberian murid saya. Lingtong bisa celaka. Maka saya menjawab, “Saya menemukan di hutan. Mungkin ada pelajar lewat dan tak sengaja menjatuhkan mereka.”

Untung saja Lingtong tak pernah membawa apapun yang aneh selain buku-buku Rujia dan beberapa kitab Tao. Ada pepatah lama mengatakan sebagai ru di kantor—pemerintahan – dan mempraktekan taoisme di rumah, mempelajari kedua aliran itu terbilang bukan hal luar biasa bagi calon sarjana.

Orang itu diam tapi orang lain bergerak. Ia memberikan kepada seseorang – yang tampaknya pangkatnya lebih rendah – sebuah botol kecil. Lalu dengan matanya menyuruh orang tersebut untuk memaksa saya agar minum isi botol itu.

Dari sejak ditangkap hingga hari ini masih bisa hidup untuk merenungkan ajaran Shifu pun saya sudah sangat beruntung. Namun kitab yang saya baca ini belum selesai. Ada rasa kecewa bila tidak terselesaikan, maka saya beranikan diri berkata, “Bolehkah bila saya minum setelah kitab ini selesai dibaca? Tak sampai setengah shichen lamanya.”

Mungkin salah satu dari mereka juga pernah belajar taoisme sehingga ialah yang meminta lainnya agar saya bisa menyelesaikan pembacaan terakhir kalinya ini. Lalu saya berkata lagi, “Memang ada orang mengunjungi saya belakangan ini. Tapi itu karena ia tak tahu siapa saya. Saya hanya menghibur dirinya karena ia nyaris bunuh diri beberapa waktu lalu. Mohon Anda sekalian melepas orang itu.” Mudah-mudahan sedikit kebohongan ini dapat menyelematkan nyawa Lingtong.

-*-

Lingtong

Akhir-akhir ‘Paman Tua’ itu semakin aneh. Ia tak lagi menerimaku bahkan sepertinya sengaja mendaraskan kitab di jam-jam aku biasa tiba. Hari ini, di hutan aku melihat beberapa orang pejabat baik sipil dan militer berjalan ke daerah ia tinggal. Aku membututi mereka karena penasaran dan cemas.

Aku bertambah cemas melihat mereka main dobrak pintu rumah ‘Paman Tua’. Batinku bergejolak. Apakah aku harus turun tangan dan menerima kemungkinan akan kehilangan karir militerku? Tak seberapa lama, mendadak dari rumah itu terdengar kembali suara si ‘Paman Tua’ mendaraskan kitab. Aku pun merasa sedikit tenang.

Tak seberapa lama, rumah tersebut kembali tenang. Amat sangat tenang. Demikian sunyi dan senyap sementara langit mulai kembali menurunkan bulir-bulir saljunya perlahan. Jantungku bertalu-talu karena kesenyapan di sana. Sampai akhirnya para pejabat itu keluar dengan wajah-wajah terasa terpuaskan. Apa yang mereka lakukan di dalam sebelumnya? Mendengar kitab dapat membuat orang jadi seperti itukah?

Setelah mereka menjauh, aku ke rumah tersebut tanpa suara. Di sana, aku melihat tembok rumah dari tanah pada seberang pintu terdapat tulisan yang artinya “tempat kedudukan dewata sanqing” bagian bawahnya terdapat sebuah meja di mana ada lentera minyak ditempatkan – yang di kemudian waktu aku baru sadar cuma itulah penerangan di dalam rumah tersebut. Setelahnya, aku melihat si ‘Paman Tua’ terbaring di depannya dengan mata terbuka dan tak bergerak.

Aku buru-buru berlari mendekati dan mendekatkan tangan ke hidungnya. Tak bernafas. Aku meraih tangan dan kemudian menyentuh lehernya. Tak ada tanda kehidupan apapun. Mengapa? Kenapa para pejabat itu membunuhnya? Tidak ada luka apapun sebagai tanda telah terjadi kekerasan. Sama sekali tak ada. Tapi dari tubuhnya yang warna kulitnya tak seperti biasa, aku bisa menduga ia diminumi racun. Bahkan kemungkinan ia minum sendiri racunnya karena pada tubuh ‘Paman Tua’ juga tak terlihat adanya tanda bekas dipaksa.

Di dekatnya, buku-buku dariku bergeletakan di lantai dalam kondisi berserakan. Karena bukuku? Hukum apa yang dilanggar seorang pertapa dengan membaca buku semacam itu? Ataukah sebenarnya ia bukan pertapa? Bila bukan, siapa dia? Aku berkeliling memeriksa dalam rumah. Semua barang sudah berantakan tampak bekas digeledah. Dipan reyot berdiri termangu di sudut ruangan lain.

Perabot besar di sana hanya dipan reyot dan meja tempat lentera saja. Keanehan lain tak hanya itu, pintu rumah ternyata hanya bisa dikunci dari luar. Sebelumnya aku mengira bagian dalam ada slot kayu untuk menahan pintu, sebagaimana rumah pada umumnya. Rupanya tidak. Rumah ini, di bagian dalamnya lebih tampak penjara.

Tapi, di suatu sudut gelap karena jalan satu-satunya sinar matahari hanyalah melalui pintu rumah, aku melihat sesuatu berwarna kehijauan. Tak jelas mengapa orang-orang tadi tak melihat barang itu. Mungkin barang yang terjatuh di sampingnya mengalihkan pandangan.

Aku mendekati dan memungut. Ternyata, benda tersebut adalah giok yang telah dipahat dengan rapi. Pasti sebuah benda berharga, barang mahal. ‘Paman Tua’ dari keluarga berada? Apa yang membuatnya tinggal di sini seorang diri dengan segala kekumuhan seperti tempat ini?

Dilihat dari posisi lubang, seharusnya ada tali di bagian atas dan bawah giok tersebut. Kemungkinan tali sudah terlalu usang sehingga dibuang karena giok itu pun terlihat sudah kotor.

Aku membawanya ke tempat terang dan akhirnya tertegun memandangi giok tersebut.

Mungkin aku butuh nafas bantuan sekarang. Paru-paruku terasa sangat sesak. Aku tak pernah menduga ‘Paman Tua’ yang wajahnya lembut dan tenang adalah Shifu sebab aku tak pernah melihat wajah Shifu bisa selembut itu semenjak aku tinggal bersamanya di perguruan.

Aku mengambil lentera dan mendekatkan pada Shifu. Sekalipun mata itu terbuka tapi wajahnya damai seolah ia pergi tanpa penyesalan. Aku melihat ke arah tangannya yang tergeletak di samping tubuh, jemarinya seolah menunjuk ke tanah di bawahnya. Ke sanalah aku mengarahkan penerangan. Tertulis dengan samar, “Lingtong, maaf.”  Serta-merta aku menangis terisak. Semua kepingan masa lalu antara kami berdua berpendar di ingatan.

Walau bagaimanapun, ilmuku yang kudapat semenjak masuk perguruan itu juga diajarkan oleh Shifu. Dulu, aku mengira bila bertemu dengannya aku akan mampu memaki dia dan mengatai, menyumpahi. Tapi ternyata aku tak mampu dan mungkin memang tak akan mampu. Dalam perjalanan hidupku sebagai tentara, bayangnya selalu menghantui. Bagaimana menentukan kebijakan, bagaimana bersikap, semua seolah dia yang mengaturkan. Sebab ilmu perang yang kukuasai memang dialah yang mengajarkan.

Sekarang, setelah aku menemukannya dalam keadaan seperti ini, mungkinkah aku tetap tidak memaafkan beliau? Bila demikian, apakah artinya taoisme yang telah kupelajari selama sekian tahun dalam masa hidupku?

Setelah memeriksa keadaan, aku semakin yakin mereka telah tahu bahwa ada orang luar yang sering mengunjungi Shifu. Bisa jadi karena itulah Shifu diracun. Mereka takut Shifu bertemu orang untuk mengatur strategi menggulingkan Da Song. Aku? Aku adalah tentara Song yang pernah menjadi muridnya.

Mungkin, lebih baik aku mengundurkan diri lalu kembali ke perguruan. … Meimei … bila ia tak ada di sana, akulah yang akan menunggunya dan meminta maaf telah meninggalkan di rumah Bao Feng dahulu.

-*-

Lingyan

Aku melihat Shifu. Di hutan, dekat perguruan kami. Ia berdiri di bawah pohon seolah menanti seseorang. Aku ingat, di bawah pohon itulah aku bertemu dengannya pertama kali. Ia menegurku beberapa kali tapi waktu itu aku bisu.

Ah, apakah seharusnya kusebut ia Adie? Sekarang ia sudah berjenggot tebal. Kumisnya sampai menyatu dengan jenggot itu. Aku dulu tak pernah melihatnya memelihara jenggot seperti itu. Tapi dia tak seperti Shishu, rambutnya belum memutih. Apakah waktu berhenti bagimu?

Eh, baju yang dikenakan adalah hasil jahitanku dulu kala? Sudah puluhan tahun bukankah seharusnya sudah rusak? Tapi tidak. Benar, baju itu yang dikenakan. Aku melihat jahitanku yang tidak rapi di masa-masa itu tercetak jelas di keliman kerah dan lengan tangan.

Ia tersenyum tenang tak berkata apapun. Sejak dahulu memang ia tak banyak bicara. Selain mengajarkan kami ilmu-ilmu yang telah diperolehnya dari Shigong dan guru-gurunya sejak masih anak-anak, ia lebih banyak duduk diam dengan wajah kakunya. Tong Ge pun sering gentar karena kekakuannya itu. Sekarang, yang kulihat ini adalah ia dalam versi tenang dan lembut.

Aku memberanikan diri untuk memanggilnya, “Shifu?” sebab lidahku kelu dan takut ia tak berani mengakui hubungan kami. Ia menoleh padaku dan lagi-lagi tak berkata apapun juga tak mendekat. Aku melihatnya mengatur tangan memberi soja yang sangat formal seolah berusaha membuatku ingat bahwa ia keturunan bangsawan. Tentu saja tindakannya membuatku terburu-buru membalas dengan lebih mendalam. Ia guruku juga ayah kandungku, tak sopan bila aku tak segera membalas dengan penghormatan yang lebih formal untuknya. Setelah kami saling soja, ia melangkah mundur sekali lalu berbalik badan dan pergi. Seketika aku panik. Aku berteriak memanggilnya Shifu juga Adie berkali-kali, belasan dan puluhan kali. Tapi ia tak lagi menoleh. Ia terus pergi berlalu dan menyeberangi jembatan yang mendadak ada di tengah hutan tersebut. Sepanjang ingatan, dalam hutan itu tak ada jembatan seperti yang kulihat ini.

Tiba-tiba aku mendengar suara Shishu memanggil berkali-kali. Aku menolehkan kepala dan tersadar masih di dalam kamar kecilku di perguruan, tepatnya duduk di kursi dengan buku terbuka di pangkuanku, bukan sedang jalan-jalan di tengah hutan. Tak pelak aku merangkul Shishu dan terisak, “Adie pergi, Shishu. Adie telah menyeberangi jembatan.”

“Sudah hampir waktunya ritual sore. Sekalian kita doakan dia, yuk,” kata Shishu. “Aku cemas melihatmu hari ini tidak seperti biasanya.”

-*-

Xuanli

Da Shixong, bila aku menyusulmu beberapa waktu lagi, apakah kita akan bertemu? Usiaku sudah senja, seperti matahari yang hampir terbenam di batas pegunungan sana. Saat Lingtong kembali, ia berkata kau pergi dengan wajah damai. Apakah itu artinya kau sudah menemukan dao-mu?

Lingtong tiba di perguruan beberapa bulan setelah Lingyan mengigau. Tentu itu karena ia harus membereskan pengunduran dirinya dan persoalan dengan istri serta anak. Pertemuan sepasang saudara itu seperti sebuah reuni, bila saja kau menyadari kehadiran Xuanjing di sana. Aku merasakannya. Da Shixiong di sana tersenyum melihat mereka berdua kembali berkumpul. Tapi… berkumpulnya mereka ternyata hanya hitungan bulan. Bekas luka Lingtong dalam perang-perang yang pernah dilewatinya disebutnya terasa nyeri sepanjang waktu. Mungkin karena dinginnya tempat kami. Tak seberapa lama, ia pergi selamanya menyusul Xuanjing.

Aku, yang sudah di usia senja ini justru menghantar muridku yang pergi mendahului. Tapi, aku tahu. Waktuku pun tak lama lagi. Sudah waktunya bagiku mengundurkan diri dari urusan perguruan.

Duduk di kursi kayu depan pintu kamarku, aku menutup mata membayangkan masa lalu. Kecemburuanku pada Da Shixiong di masa mudaku, misalnya. Karenanya aku mendesah.

Da Shixiong, di kehidupan lain, mungkinkah kita akan kembali berjumpa? Apakah saat ini justru kau telah bangun dari mimpi sedangkan aku masih hidup dalam mimpi? Setelah melalui kehidupan ini, apakah kita menjadi kupu-kupu seperti sebut sesepuh Zhuang[3] ataukah menjadi manusia lain? Sebagai apapunm aku berharap di saat itu kita bisa lebih akrab tak seperti di kehidupan ini.

Mendengar pintu terbuka, aku menolehkan wajah ke arahnya. Kulihat seseorang bocah berdiri kaku di muka pintu. Aku membuat mata lebih terbuka agar dapat melihat orang itu dengan jelas. Umur yang semakin menua dan kurangnya gizi di masa kecil membuat mataku rabun. Orang itu, tampaknya seperti pernah melihat dia di suatu tempat.

Orang itu berkata, “Daoshi, kita kembali berjumpa. Ingatkah kau atas siluman-siluman yang kau tawan di desa sekian waktu lalu?” aku berusaha mengingat masa lalu. Tampaknya itu dari kejadian di kepergian kami berenam terakhir kalinya itu. Ya, ada seorang anak yang justru bersimpati pada siluman. Jadi, apakah …?

“Selamat jalan, Daoshi ….” Ketika bicara, tangannya menghunuskan pedang dan seketika aku tak tahu lagi apa yang terjadi padaku.

-*-


[1] Merujuk pada istri sah Bao Feng

[2] Di sini sebagai ibu sah (bukan ibu kandung).

[3] Zhuangzi 莊子 nama asli Zhuang Zhou 莊周

%d blogger menyukai ini: