Lanjut ke konten

Seribu Pedang Sejuta Kenangan

Seribu pedang terhambur ke udara
Seribu janji mengawang ke angkasa
Kelak bila kita kembali jumpa
Akankah segalanya terlaksana?

-*-

Xuan dan ling, nama depan keempat tokoh berasal dari kata xuanling 玄靈 yang dapat diartikan sebagai ‘jiwa yang abadi’. Xuan 玄 bermakna ‘black, dark; profound, abstruse’ sedangkan ling 靈 artinya clever; spirit; elf.

Judul ‘Seribu Pedang Sejuta Kenangan’ memiliki makna tersendiri. Pedang adalah senjata yang juga menjadi simbol atas kekuasaan. Ini menjadi perlambang bahwa dalam seribu kehidupan itu setidaknya salah satu dari mereka berhubungan dengan kekuasaan dan atau kejayaan. Sejuta kenangan menggambarkan bagaimana mereka berinteraksi menimbulkan kenangan baik indah ataupun pahit yang pada akhirnya terkumpul dalam benak kejiwaan mereka sebagai landasan bagaimana berinteraksi secara tak sadar pada kehidupan mereka selanjutnya.

Pembuatan cerita ini pada awalnya terinspirasi dari mimpi seorang kawan yang kebetulan menyambung dengan mimpi saya sehingga terjadi pertanyaan besar apakah reinkarnasi sungguh terjadi? Jiwa manusia seolah didaur ulang dari manusia sebelumnya menjadi manusia baru atau mungkin seperti mimpi Zhuangzi menjadi kupu-kupu bahwa kita itu seperti kupu-kupu yang bermimpi menjadi Zhuangzi. Mungkin, saat Zhuangzi meninggal, kupu-kupu tersebut bangun dari tidurnya.

Tokoh utama novel ini terdiri dari empat orang yang mengembara dalam kehidupan manusia untuk mempelajari kehidupan. Di cerita awal, mereka bertemu sebagai guru murid dalam sebuah perguruan taoisme yang mana Xuan bertindak sebagai guru dari Ling. Generasi Xuan yang menjadi cerita ini ada dua orang yakni Xuanjing dan Xuanli sedangkan generasi Ling yang menjadi sentral cerita juga terdiri dari dua orang yakni Lingtong dan Lingyan.

Xuanjing dan Xuanli awalnya adalah pribadi yang saling tidak mengenal. Mereka menjadi saling mengenal dan berinteraksi karena sang Guru memilih mereka berdua menjadi muridnya. Kisah ini kemudian bercampur dengan sejarah Tiongkok di awal abad 10 karena diceritakan bahwa Xuanjing adalah keturunan bangsawan Da Han (oleh para sejarahwan sekarang disebut Nanhan untuk membedakan dengan dinasti Han). Kerajaan Da Han takhluk oleh Dinasti Song yang dipimpin oleh Zhao Kuangyin. Kaisarnya terakhir menjadi tawanan kemudian mati (kemungkinan diracun oleh orang Song). Di luar itu, sisa keluarga bangsawan lainnya mati baik dibunuh maupun bunuh diri. Itu mengakibatkan Xuanjing menjadi satu-satunya darah bangsawan Da Han yang tersisa.

Lain halnya dengan Lingtong dan Lingyan yang terlahir sebagai adik kakak. Di kemudian hari, persaudaraan mereka terjadi masalah setelah sebuah kebenaran terungkap. Pada akhirnya, ketika jodoh mereka di kehidupan tersebut usai, jiwa mereka mengembara sampai pada kehidupan berikutnya.

Daftar isi:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: