Lanjut ke konten

5 – Menyeberangi Sungai Tak Sadar Rumah Depan Mata

Xuanli

Tadi, setelah memeriksa Lingyan, aku tak dapat menemukan jejak apapun atas kebisuannya selama ini. Sekarang anak itu tengah melatih kelancarannya berkata-kata dengan Lingtong. Dia anak cerdas, pasti cepat lancar.

Padahal, aku masih ingat ketika memperhatikan Shifu yang tampak menyerah saat melihat kondisi Lingyan. Shifu yang demikian mahir saja menyerah. Tapi hari ini mengapa suara gadis kecil itu mendadak kembali? Memang tidak ada bekas luka apapun yang fatal di sekitar lehernya. Lingtong berkata seorang penjahat mencekik Lingyan sebelum kabur karena teriakan Lingyan telah mengundang tetangga datang karena kaget.

Apakah hanya karena ditingal Da Shixiong? Apakah hubungan guru-murid di antara mereka sudah sedemikian lekatnya? Di saat duduk di pinggir ranjang memikirkan ini, Lingtong tiba-tiba mengetuk pintu kamarku. Setelah kubiarkan masuk, ia datang menghampiri dengan muka kuyu dan aneh. Remaja itu mengeluarkan secarik sobekan kain yang sudah usang dimakan usia bersama sebuah hiasan giok berwarna hijau terang. Aku sangat ingat bentuk giok itu. Pasti milik Da Shixiong. Barang itu dulu selalu digantung di ikat pinggangnya sampai saat kaburnya ia terakhir kali. Waktu itu saya menemukan dia di hutan sudah tidak dengan giok itu dan dengan pakaian terkoyak di beberapa tempat. Bagaimana mungkin barang tersebut ada di tangan Lingtong?

Shishu, katakan padaku! Niang dulu berkata agar bersama Meimei menemui Shigong untuk menerima kami. Aku ingat Niang memintaku baik-baik menjaga adikku.” Di saat mengatakan ini, anak remaja itu mulai mengeluarkan air mata. “ … Aku juga ingat Niang berpesan bila kami mengalami masalah, aku harus menunjukkan ini pada murid pertama Shigong, itu … adalah Shifu. Hari ini … MeimeiMeimei… aku bukan tidak senang Meimei sembuh, Shishu. … Tapi… walaupun dulu masih kecil, aku masih ingat, Adie[1] tak ikut pulang bersama kami setelah mengunjungi Shigong. Waktunya hampir sama dengan umur Meimei, Shishu. Jadi … jadi …?”

Ibu kandung anak ini adalah kerabat dari Shifu sehingga tak heran waktu kecil pernah dibawa mengunjungi kami. Seingatku, ibu kandungnya adalah anak dari salah satu sepupu luar Shifu.

Aku tak tahu harus menjawab apa untuk pertanyaan anak remaja ini. Kasih sayangnya selama ini kepada Lingyan serta baktinya pada Da Shixiong dan padaku, keduanya membuat aku tak bisa berkata apapun. Aku mendekapnya perlahan.

Shishu, berarti dulu Adie pergi selamanya karena Shifu. Meimei juga apakah berarti bukan adik kandungku, Shishu?”

Aku akhirnya hanya bisa menjawab pelan dan tak yakin, “mungkin?”

-*-

Lingyan

Setelah malam itu, Gege menjadi aneh. Ia tak tak lagi dekat. Sikapnya selalu menjauh dan menghindari aku. Berkali-kali aku menemuinya namun ia selalu memasang jarak. Jauh, sangat jauh. Seolah aku bukan saudari yang selama ini di sisinya. Shishu berkata itu mungkin karena ia memikirkan nasib Shifu. Tapi aku tak merasa demikian.

Hari berikutnya Gege menghilang. Aku tak melihatnya di sudut manapun dalam kediaman keluarga Bao yang besar itu. Aku sudah memanggilnya dan mencari sampai sudut manapun dan semua tempat yang memungkinkan ditempani oleh Bao Feng. Tapi ia tak pernah terlihat di sana.

Shishu mengatakan mereka sedang memikirkan bagaimana caranya menolong Shifu. Karena itu, Gege berangkat terlebih dahulu untuk melihat keadaan. Karena beliau telah menjadi tawanan dua tentara itu dan dibawa ke ibukota. Kata Shishu, besok ia akan menyusul Gege namun aku tidak boleh ikut mereka pergi menolong Shifu. Aku harus tinggal di rumah ini bersama Bao Feng dan keluarganya.

Hari-hari berikutnya Bao Feng selalu terlihat di hadapanku seolah bila tak ada di dekatku, aku akan kabur ikut bersama angin tenggara yang berhembus. Shishu tak ada. Gege tak ada jua. Aku memang tak punya siapapun lagi di sekitarku selain pemuda bermarga Bao ini untuk berbincang. Para pelayan yang ditempatkan Bao Feng untuk melayaniku tak ada yang mengerti pembicaraan bila aku berkata tentang kitab-kitab yang pernah kupelajari di perguruan.

-*-

Xuanli

Lingtong akhirnya benar-benar pergi tanpa pamit. Aku tak tahu ke mana ia pergi. Hanya secarik kain usang dan giok yang ditinggalkan padaku. Aku hanya bisa berkata pada Lingyan bahwa kakaknya mencari akal untuk menolong guru mereka itu. Sebab tak mungkin berkata bahwa gurunya itu adalah ayah kandungnya lalu bahwa ayah kandungnya dicurigai telah membunuh ayah kandung Lingtong. Aku tak tega melakukan hal itu.

Ketika malam kembali tiba, Bao Feng menemuiku. Setelah mendiskusikan masalah ayah kandungnya yang telah berangsur membaik, ia berkata bersedia menolong kami dengan menggunakan koneksinya untuk memastikan Xuanjing baik-baik saja. Tapi untuk itu ia memberikan syarat. “Kemarin malam aku mendengar bahwa Xuanjing adalah ayah kandung Lingyan. Kalau begitu, impas bukan? Dulu Xuanjing menodai Dajie sampai bunuh diri. Fuqin menderita bertahun-tahun karenanya. Kalau bukan ilmu Xu Daoshi, tak mungkin kembali sehat seperti hari ini.”

“Walau secara resminya Lingyan murid Da Shixiong, tapi ia juga terhitung sebagai muridku,” kataku menolak.

Ia lalu membalasku, “Xu Daoshi, aku bukan hendak membunuh dia.”

Setelah berbantah-bantahan lebih dari satu shichen dengan suara pelan – memastikan Lingyan tak mendengar, akhirnya kuputuskan agar Lingyan bisa memilih hidupnya sendiri. Bila pada akhirnya Bao Feng dapat membuatnya jatuh cinta, ia akan kembali pada kehidupan masyarakat. Tapi bila ia berjodoh dengan kami, bagaimanapun pasti akan punya jalan kembali ke perguruan. Karena hal itu pula, akhirnya Bao Feng juga menjanjikan bantuan agar Da Shixiong setidaknya tidak perlu menyebrangi Huangquan[2] dari tanah asing.

Setelah perjalanan selama sekian hari, akhirnya aku berhasil menemui Da Shixiong. Dalam penjara ibu kota di Bianjing tepatnya. Aku tunjukkan dua benda yang ditinggalkan Lingtong dan berkata murid lakinya itu kini telah pergi tanpa jejak. Dia terdiam sejenak tampak merasa bersalah kemudian bertanya, “Lingyan?”

“Dia tak apa, suaranya pun benar-benar kembali. Sembuh dan normal. Mungkin juga, ia akan kembali ke kehidupan masyarakat.” Aku bercerita tentang muridnya yang ternyata juga anak kandungnya itu telah kutinggalkan bersama Bao Feng. Dia tersenyum lalu berkata dengan berair mata tampak sangat bersyukur, “Ternyata Liu masih punya keturunan.” Mungkin setelah tahu Lingyan adalah darah dagingnya, ia akan lebih berharap bocah itu kembali ke kehidupan masyarakat. Mungkin juga berharap ia bisa menyampaikan anak itu bermarga Liu, keturunan bangsawan Da Han. Tapi juga bisa jadi tidak ingin menyampaikan tentang itu karena takut anak itu juga mendapat masalah dengan kekaisaran yang baru ini.

Setelahnya kami mengobrol sejenak membicarakan masa lalu. Dia bercerita, setelah ikut Shifu bajunya selalu paling dekil dan jelek sampai-sampai ia selalu memilih tidak menemui tamu manapun yang bertandang ke perguruan, bukan hanya karena takut tamu tahu jati dirinya tapi juga faktor tak punya pakaian yang pantas. Aku tahu sebabnya. Dari setiap dana yang didapat dari menjual hasil kebun perguruan ataupun dari sumbangan para orang kaya, dia selalu mendapat jatah paling sedikit juga mendapat kain untuk pakaian paling jarang. Da Shixiong baru mendapat jatah kain baju yang baru, bila hanya Shifu melihat pakaian-pakaiannya sudah sangat tak layak pakai. Kerusakan yang masih bisa ditambal dengan kain lain itu disebut beliau masih layak dipakai oleh Da Shixiong.

Untungnya dalam beberapa waktu belakangan ada Lingyan yang berbaik hati selalu menyisihkan dari jatah pakaian seminimnya untuk menambal baju Xuanjing atau bahkan menjahitkan yang baru. Juga karena mengingat itu, aku berpikir mungkinkah batin mereka terhubung karena hubungan darah?

Lalu aku membalas, “Aku dan Shifu mencarimu ke mana-mana dengan susah payah. Aku sering berpikir murid macam apa kamu sampai membuat gurumu kalang kabut menyelesaikan dengan diam-diam semua sisa-sisa kelakuanmu.” Selepas itu kami tertawa berdua menertawakan kecemburuan kami masing-masing di masa lalu barulah berpamitan. Aku akan pulang ke penginapan.

Esoknya, aku mendengar kabar ia dipindahkan. Xuanjing tak lagi menempati sel penjara itu. Tak ada yang mau memberitahu ke mana dipindahkan. Aku mengirim surat pada Bao Feng tapi yang bersangkutan pun tak dapat berkata apapun. Hanya bisa menjanjikan akan sebaik mungkin memanfaatkan koneksi dari kejayaan keluarganya, untuk menjamin Xuanjing pasti masih hidup. Pada akhirnya aku hanya bisa pulang ke perguruan melapor pada Shifu.

Kami berangkat dari perguruan berenam namun hanya aku seorang diri yang pulang ke perguruan.

-*-

Xuanjing

Selepas obrolan dengan Xuanli, hatiku menjadi lega. Tak hanya fakta bahwa keluarga saya ternyata masih punya keturunan, hal lainnya karena beban di antara kami berdua telah terangkat. Saya tahu, kami tak akan lagi bertemu. Jadi sebelum ia pergi, saya memintanya agar menyampaikan salam hormat yang mendalam pada Shifu.

Sekurangnya, saya sudah melewati satu kali putaran purnama di dalam sel ini. Semenjak datang sampai hari ini tak ada pengadilan. Tak ada siksaan apapun selain rantai yang membelenggu kaki dan tangan. Hanya itu.

Memasuki musim ini, saya pun menjadi teringat. Di perguruan pada hari-hari ini, kami semua pasti harus sibuk menyiapkan serangkaian ritual. Bulan depan juga pasti akan ada beberapa tamu yang meminta kami mendoakan arwah keluarga mereka ataupun yang sekedar datang berkunjung menikmati pemandangan di sekitar perguruan kami di musim semi. Mengingatnya, membuat saya tak tertidur sepanjang malam hingga beberapa petugas membuka sel lalu membawa saya pergi.

Sama seperti saat dibawa ke sel ini, mereka mengikat dan mengarungi lalu menempatkan saya di sebuah kotak yang entah mungkin peti mati atau entah seperti apa bentuknya. Setelahnya saya mendengar suara kuda dihela. Sehari dua kali peti tempat mereka meletakkan saya itu dibuka lalu karung yang menutupi muka saya juga dibuka. Itu adalah tanda saatnya mereka memberi saya makan dan minum walau tetap dalam kondisi badan terikat. Setiap kali, pasti sudah berbeda tempat. Saya tak dapat melihat jelas karena terlalu lama berada di dalam kegelapan dan lemas karena selalu dalam keadaan terikat. Mungkin juga di setiap makanan atau minuman yang diberikan selalu diberikan obat bius, saya tak jelas.

Kurang lebih sudah setengah bulan kami di jalan. Jalanan semakin menanjak. Saya tak punya bayangan ke mana mereka akan membawa. Pada akhirnya. Kereta kami berhenti bergerak. saya mendengar pembicaraan di antara mereka seperti sedang membagi tugas. Kemudian saya dikeluarkan dari peti dan dihempaskan ke sebuah ruangan tanpa jendela. Seperti gua? Juga bukan. Tapi pintunya hanya satu dan setiap saat saya mendengar suara mereka di sekililing ruangan itu. Mereka menjaga saya dengan ketat.

Hari ke enam setelahnya, akhirnya saya berhasil membuat mereka mau menanggapi. Saya pun akhirnya bisa bertanya, “Kaisar kalian tak hendak melenyapkan saya?” seorang dari mereka mendengus terlebih dahulu lalu menjawab, “Entah usul siapa yang membuat kami harus naik gunung dan menjagai seorang pertapa sepertimu.” Baju saya sejak dibawa tentara Da Song dari depan kediaman Bao Feng pun sudah kumal seperti baju orang yang sangat miskin. Mungkin karena itulah, orang-orang bisa dengan mudah memaafkan kesalahan saya pada keluarga mereka. Jadi bukan karena saya memberikan kowtow pada mereka. Si bangsawan pongah telah menjadi sangat miskin tanpa punya apapun untuk disombokan lagi. Saya tak heran bila karena hal itu.

Lambat laun mereka para penjaga yang bila ditotal ada sekitar sepuluh orang menjadi bosan lalu kami seolah menjadi teman. Apalagi kerjaku di dalam ruangan itu hanya melafalkan ulang ajaran-ajaran Shifu selama belasan tahun terakhir ini.

-*-

Lingyan

Beberapa bulan berlalu, aku tak menerima kabar apapun dari Shishu dan Gege. Apakah mereka gagal mengeluarkan Shifu? Atau telah terjadi sesuatu pada mereka? Beberapa bulan lagi berlalu dan berbulan-bulan lagi hingga akhirnya aku pun mengalami haid pertama di kediaman asing ini. Setelah itu, Bao Feng berkata aku akan menjadi istrinya. Dia ingin menjadi suamiku dan katanya Gege telah menyerahkan aku padanya. Aku sempat terperanjat dan mengelak. “Aku mau pulang,” kataku. Tapi Bao Feng membalas, “Perjanjian kami adalah kamu tinggal sebagai istriku dan aku akan mengerahkan semua daya untuk mempertahankan nyawa Xuanjing. Bila kau pulang, dengan daya apa aku mengusahakan nyawanya?” mendengarnya aku terkesiap. Setelah itu aku hanya bisa terduduk pasrah. Demi Shifu …. Demi Shifu.

Masalah lain adalah Bao Feng telah menikah dan istri sahnya itu sehat bahkan telah memberinya dua orang putra. Ditambah aku bukanlah siapa-siapa di luar status cucu murid dari Shigong yang namanya sudah banyak dikenal orang-orang. Kemudian, dengar-dengar juga, sang Tuan Besar sebenarnya tak setuju Bao Feng mengambilku sebagai selir karena aku murid Xuanjing. Karena semua itu, aku tidak mungkin menjadi istri sahnya.

Menjadi yiniang[3]artinya tidak ada pesta perkawinan. Aku diberikan sebuah griya kecil di bagian samping – sebab bagian dalam rumah utama untuk kepala keluarga dan acara penting keluarga. Beberapa pelayan muda menghiasi griya tersebut dengan kain merah dan kertas bertuliskan shuangxi[4]. Kemeriahan itu tak akan sampai griya lain apalagi seluruh rumah. Hanya tempatku ini saja. Selagi persiapan itu, seorang mama menjelaskan dan mengajarkan padaku etika para tuan di kediaman ini. Bagaimana tata cara menyapa istri sah Bao Feng, nyonya besar, selir-selir tuan besar dan lain sebagainya. Ia mengoceh tanpa henti dengan sesekali memandangku dalam cara merendahkan. Padahal di perguruan, kedudukanku cukup terhormat. Aku dan Gege adalah murid dalam yang berarti murid resmi. Apalagi, bagaimanapun nakalnya, aku dan Gege sangat disayang Shigong. Para Shishu juga menyayangi kami karena mereka menganggap kami anak cerdas. Karenanya murid luar pun tak berani macam-macam sekalipun mereka lebih berumur dibanding kami.

Seorang pembantu senior yang dipanggil Tu Mama datang mendandani lalu dibiarkannya aku menanti Bao Feng untuk malam pengantin. Tak ada pesta juga tak ada ritual pernikahan depan altar keluarga. Lalu ketika esok tiba, aku harus menemui istri sah Bao Feng dulu dan menyajikan teh padanya. Dengar-dengar dari para pelayan, kebanyakan istri sah akan memandang remeh selir tuannya.

-*-

Xuanjing

Lambat laun satu demi satu dari orang-orang yang seharusnya mengawasi itu justru menikahi gadis dari desa terdekat seolah lupa akan tugas mereka. Akhirnya, waktu berganti tak hanya hari demi hari namun tahun demi tahun. Mereka hanya datang bergiliran mungkin sebulan hanya beberapa kali. Terkadang membawa teman atau entah siapa, mungkin atasan menghampiri saya. Bila mereka membawa orang lain, biasanya pembicaraan akan meluas bahkan sampai ke politik. Terkadang saya mengira apakah pembicaraan itu disengaja untuk menilai apakah saya memiliki niat tertentu. Karenanya, saya pun acap menahan diri untuk membicarakan masalah krusial terlebih menyangkut negara saya dan masa sebelum dinasti ini berdiri.

Tapi, bila mereka datang sendiri, biasanya hanya kegiatan seperti melihat saya dan mengirimi kebutuhan sehari-hari, menceritakan kondisi di desa terdekat, mendengar saya membacakan kitab-kitab tao yang telah saya hafal lalu sedikit bertanya apa maksud dari isi kitab tersebut, semacam semua itu.

Waktu semakin panjang sehingga saya tak lagi ingat itu adalah tahun ke berapa sejak saya ditempatkan di atas gunung itu. Tepatnya di sebuah rumah yang temboknya berlapis tanah kering, sendirian. Para penjaga itu kemudian entah meninggal atau pindah tugas, intinya semakin jarang mereka mengecek keberadaan saya membuat banyak waktu luang untuk merenungi masa lampau.

Ingatan akan percakapan dengan Xuanli kembali terngiang. Atas jatah pakaian dari Shifu, sekarang ini, barulah saya memahami maksudnya. Saya datang ke dunia ini di keluarga bangsawan kaya. Segala kebutuhan duniawi selalu tercukupi semenjak belia bahkan Muqin[5] sangat memanjakan saya. Mungkin, Shifu sengaja melatih saya dengan memberikan jatah serba kurang di masa itu. Teringat Shifu lantas membuatku teringat pada para Shidi dan Lingtong serta Lingyan. Dua anak-anak itu, apa yang mereka lakukan saat ini? Apakah Lingyan benar-benar menikah dengan Bao Feng atau pulang ke perguruan? Apakah Lingtong bisa memaafkan saya?

Waktu itu saya tengah berjalan kaki, tentu seorang diri, hingga menjumpai sebuah paviliun di pinggir tebing. Jarak paviliun dari rumah sebenarnya tak terlampau jauh untuk sekedar menggerakkan kaki. Tapi biasanya saya tidak tertarik untuk mengunjungi tempat tersebut. Kali ini berbeda. Entah mengapa saya tertarik mendekati tempat itu.

Di sana, sudah ada seorang lelaki paruh baya berdiri terdiam, mungkin tertegun melihat pemandangan. Langkah kaki saya rupanya mengusik ketenangan sehingga ia berbalik dan kami pun berhadapan. Lelaki itu sebenarnya cukup gagah namun wajahnya terlihat lelah. Usianya mungkin sudah lima puluhan. Ia menyapa saya dengan sebutan ‘Paman Tua’ yang membuat saya memandangi diri sendiri. Rupanya rambut dan jenggot saya memang semuanya telah memutih. Karenanya, kemudian saya tersenyum.

-*-

Lingtong

Setelah meninggalkan Lingyan di kediaman Bao, aku pergi tiada arah. Tanpa sadar, aku sudah berada di perbatasan utara. Itu adalah tempat di mana perang seolah tiada akhir. Waktu itu, karena tak tahu harus mengerjakan apa dan uang pun sudah tak ada, akhirnya aku bergabung menjadi tentara mempertahankan benteng kota. Lumayan. Aku mendapat makan setiap hari, tempat tidur dan teman mengobrol.

Semenjak itu, ternyata waktu telah berlari meninggalkan aku. Ketika tersadar, aku sudah menjadi lelaki paruh baya, beristri bahkan sudah bercucu pula. Saat itu, setidaknya aku sudah mempunyai jabatan di militer sekalipun tetap ditempatkan di perbatasan utara. Tapi negara ini menurutku tak ramah untuk seorang militer. Aku seperti merasa mereka takut dikhianati kami namun di sisi lain membutuhkan kami untuk menjaga perbatasan.

Lelah dengan semua itu, aku meminta cuti panjang sebab aku teringat Meimei juga Shigong, Shishu atau mungkin juga … Shifu. Tapi aku tak berani naik dan kembali ke perguruan. Aku takut bila bertemu mereka akan kehilangan kata-kata dan tidak sanggup menghadapi, terutama Meimei dan Shifu. Jadi, aku menanti di batas desa terdekat. Perguruan membutuhkan beberapa keperluan sehari-hari yang tidak mungkin dikerjakan sendiri. Mungkin mereka akan lalu lalang dan aku bisa melihat mereka dari kejauhan.

Tapi, sudah berlalu beberapa puluh hari mereka tak pernah tampak. Bahkan aku tak melihat satupun orang perguruan melintasi desa. Desa ini cuma punya satu jalan. Rumah dan warung menyebar di kanan dan kiri jalan itu saja. Jadi cukup mudah memperhatikan perilaku orang-orang dari luar daerah.

Dari sepanjang waktu itu, aku juga hanya dua kali melihat kereta kuda pergi ke arah perguruan. Satu kereta tampaknya baru pertama kali ke sana hingga sempat bertanya padaku seberapa lagi jauhnya perguruan itu. Kereta satunya hanya melintas tanpa bertanya pada siapapun. Di dalam kereta itu dari jendela yang tertutup kain tipis, sekilas aku melihat seorang perempuan, lebih tampak seperti nyonya berpakaian sederhana. Tapi bisa memiliki kereta kuda, nyonya itu pasti cukup berpunya. Mungkin ia hendak bersembahyang atau konsultasi sesuatu dengan para Shishu atau Shigong. Akhirnya aku merasa putus harapan sehingga pergi tanpa arah menyusuri gunung.

Tiba-tiba aku sudah sampai di paviliun di pinggir tebing ini. Aku termenung di sana. Pemandangannya indah namun tampak mistis. Mungkin Shifu dan Meimei akan merasakan sesuatu bila pergi ke tempat ini. Ah …, Meimei. Salahkah aku telah meninggalkan Meimei? Meimei sebenarnya tak bersalah. Ia hanya efek samping dari kebejatan Shifu. Tapi mengingatnya adalah anak dari orang yang menyebabkan Adie celaka, aku menjadi benci telah menjadi saudara satu ibu dengannya. Ketika sedang memikirkan itu, aku mendengar suara langkah mendekat. Seorang kakek yang masih sangat kuat dan gesit. Ia bahkan bisa sampai di tempatku tanpa terengah-engah. Dilihat dari pakaiannya yang kasar, mungkin penghuni desa terdekat.

Ia bertanya pada saya setelah terdiam sejenak ketika saya menyapanya sebagai ‘Paman Tua’, katanya, “Mengapa Anda di sini seorang diri?” orang ini berkata-kata dengan sangat sopan dan formal. Berbicara dengannya membuatku merasa sedang berbicara dengan rekan orang sipil di pemerintahan. Apakah ia adalah pejabat desa yang senang menyamar sebagai orang biasa?

Aku mendesah dan barulah menjawabnya, “Kawan seperjuangan saya banyak yang telah pergi. Perang mencabut nyawa mereka namun perang juga tak pernah berakhir.”

Ia menengok ke bawah tebing dan berkata pelan, “Anda tidak sedang berkata hendak menyudahi hidup di sini, bukan?” mendengar pertanyaannya, sontak aku kaget dan tertawa terbahak-bahak. “Menurut Anda?” kataku lagi.

Paman tua itu tersenyum dan berkata, “Anda tahu? Mo[6] pernah dengan kata lain berkata perang tak akan usai karena orang-orang tidak menerapkan cinta universal. Lao[7] juga mengatakan sekalipun menempa dengan tajam, tak berarti dapat selamanya melindungi[8]. Jadi–,”

“Tahu cukup. Haus kekuasaan dan harta membuat perang akan selalu bergejolak.” Setelah memotong kata-katanya, aku terdiam membeku. Kalimat terakhir itu berkali-kali dulu telah saya dengar semenjak saya masuk perguruan. “Apakah Anda seorang daoshi?” kataku memberanikan diri bertanya.

Ia sekali lagi tersenyum, tidak mengangguk ataupun menggelengkan kepala. Ia berkata, “Memang benar saya telah mempelajari taoisme sekian waktu, tapi menyatakan diri sebagai daoshi, saya tetap merasa tak pantas.” Ini adalah jawaban mengambang, tapi mungkin memang begitu sifatnya. Lagipula aku pernah juga berjumpa dengan beberapa pendeta Tao yang memiliki pengetahuan mengagumkan namun begitu merendah, tidak berani membanggakan diri mereka.

Saya pun ikut tersenyum dan membalas, “Saya juga pernah pelajari hal sama dengan Anda. Akan tetapi ada suatu masalah terjadi sehingga saya pergi dari perguruan. …,” saya mendadak terdiam karena tak tahu apakah kisah seperti itu pantas diceritakan ke orang tak dikenal ataupun harus saya simpan seorang diri? Tapi orang ini terlihat cukup bijak, akhirnya aku berani melanjutkan, “Guru saya ternyata adalah orang yang membuat Adie pergi selamanya. Saya waktu itu tak dapat memaafkannya dan sekaligus merasa tak pantas untuk membalaskan dendam Adie. Karena itu, saya hanya bisa pergi.”

Ia tertegun sekian lama dengan terus memandangi saya kemudian menganggukkan kepala dan berlalu pergi. Aku tak tahu apa yang ada di pikiran Paman Tua itu namun dapat merasakan ia sungguh penuh misteri, seperti ada yang harus disembunyikannya dari semua orang.

-*-


[1] Panggilan non-formal untuk ayah

[2] Salah satu mitos alam arwah di Tionghoa sebelum masuknya buddhisme

[3] Istri yang bukan istri sah/didaftarkan pada dokumen dan daftar silsilah kluarga

[4] 囍 bermakna kebahagiaan ganda

[5] Panggilan formal untuk ibu kandung

[6] Merujuk pada Mo Di 墨翟 salah seorang filsuf pada masa 100 aliran filsafat. Cinta universal yang dimaksud adalah ajaran tentang jian’ai 兼爱 intinya agar menerapkan cinta yang tidak berjenjang antara ibu saya dengan ibu kamu, negara saya dengan negaramu dan sejenisnya.

[7] Merujuk pada Laozi yang dikatakan telah menulis kitab 5000 huruf dan di kemudian hari dikenal sebagai Daode Jing.

[8] Dikutip dari Daode Jing bab 9.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: