Lanjut ke konten

2 – Gunung Tinggi dan Air yang Mengalir

Lingtong

Sungai berada tak seberapa jauh dari tempat kami. Mengikuti arah sungai membuat kami tak kuatir kekurangan air sekaligus lebih aman karena gunung ini sering ditutupi kabut. Binatang buas? Memang ada kekuatiran tapi karena ada Shifu juga Shishu, kekuatiranku berkurang. Lagipula bukankah dulu aku berhasil membawa adikku bertemu Shigong seorang diri?

Kami turun gunung berenam. Bao Feng membawa seorang anak buahnya lalu aku, Meimei, Shifu dan Shishu. Mengingat beliau, wajah Shifu akhir-akhir ini selalu muram. Mirip seperti Meimei bila sedang dihukum Shigong karena pembangkangannya. Lalu Shishu, berjalan di sisinya. Aku tak mendengar apa yang mereka bicarakan. Mereka seperti bicara namun juga terasa tidak bicara. Lalu anak buah Bao Feng yang juga bermarga Bao dan dinamakan  Jin. Ia berjalan di depan kami seolah menjadi pembuka jalan. Sedangkan Bao Feng di antara aku dengan Bao Jin. Ia beberapa kudapati melirik Meimei, entah apa yang dipikirkannya.

Kini, kami telah keluar dari hutan yang menjadi pemisah antara pedesaan terdekat perguruan dengan desa lainnya. Artinya, kami sudah melewati satu hutan lalu satu desa lalu hutan lagi yang hampir kami lewati. Atap rumah penduduk mulai terlihat satu demi satu. Di titik ini mendadak Shifu berkata, “Lewat dalam desa.” Suaranya seperti biasa, tegas dan hemat. Aku perhatikan tangannya, jempolnya bergerak menyentuh buku-buku jari dari telunjuk hingga jari manis. Apa yang dihitung?

Di saat sama, Meimei berhenti melangkah. Matanya dikatupkan. Aku dapat merasakan dari gerakan tubuhnya bahwa nafasnya telah melambat dengan teratur. Serta merta kusentuh pedang, bersiaga. Demikian pula dengan Shishu, ia juga telah memegangi pedang. Sesuatu akan terjadi. Mau tak mau aku mulai merasa tegang.

Mengikuti sikapku, Bao Feng dan Bao Jin juga mulai memasang sikap waspada. Aku benar-benar tidak tahu apa yang ada di pikirannya. Langkah Bao Feng melambat hingga akhirnya menyamai Meimei yang baru saja kembali melangkahkan kakinya—kembali menjejeri aku. Tidak mungkin karena takut, kan? Tapi buat apa menjejeri Meimei? Jaga? Sudah ada aku yang menjaga. Lagipula selama Shifu dan Shishu ada, siapa yang berani melukai? Justru hanya Bao Feng seorang yang pernah melakukan itu.

Tanpa sadar, aku mendesah resah. Di akhir hidupnya, Niang[1] mempercayakan Meimei padaku. Aku harus menepati janji, menjaga Meimei sampai kelak seseorang yang bisa kupercaya mengawininya.

-*-

Xuanjing

Sejak Shifu melepas kepergian kami, saya mulai merasakan suatu firasat aneh. Mungkinkah ini perjalanan terakhir saya? Jika demikian pun, sesungguhnya bukan masalah besar. Saya telah menyadari, ketumpukan kesalahan yang telah diperbuat sepanjang hidup ini pantasnya diganjar dengan mati. Namun, Shifu justru mempercayakan dua murid pada saya di hari itu. Sungguh merupakan kejutan yang teramat besar.

Di sini, ketika hutan yang memisahkan desa terdekat dengan perguruan baru saja terlewati, saya kembali merasakan suatu firasat aneh. Begitu kental. Sadar atau entah tak sadar, jemari segera bergerak, melakukan perhitungan. Sepertinya, Lingyan juga sudah tahu apa yang menantinya di depan. Sebab itulah, dengan yakin saya tetap memilih melalui jalan desa.

“Kenapa jadi seperti ini?” Bao Jin bicara tanpa ada yang menanggapi. Mungkin memang tak butuh tanggapan sebab ia dengan segera menambahkan, “Waktu kami lewat sebelum naik gunung, semua di sini masih baik-baik saja.” Ia sibuk berpaling kiri dan kanan memperhatikan seantero desa yang kami lewati. Desa tersebut begitu sunyi seolah mendadak ditinggalkan penduduknya dengan serentak.

Apakah ia tidak dapat mengendus bau kematian yang tajam menusuk? Mungkin tidak. Tak semua manusia memiliki indra penciuman setajam itu. Saya … dan Lingyan. … Alasan Shifu menunjuk saya agar menjadi guru bagi Lingyan mungkin karena ini. Indra saya dan dia berbeda dari manusia normal. Kami dapat membaui ataupun melihat sesuatu yang seharusnya tak dapat dilihat manusia normal.

Sekarang malam segera menghampiri. Sebaiknya kami mendapatkan sebuah tempat untuk istirahat.

-*-

Lingyan

Mendekati desa, aura aneh dan asing terasa bertambah kuat. Di rombongan kami, sepertinya hanya aku dan Shifu yang memiliki kepekaan tinggi terhadap makluk asing. Tapi sungguh aku tidak tahu apakah yang kami hadapi ini adalah jenis yao, jing, guai atau mo[2].

Ini pertama kalinya aku keluar setelah masuk perguruan itu beberapa tahun lalu. Dulu aku masih sangat kecil. Sekarang pun walau tubuhku disebut teman-teman lain sudah terlihat sebagai seorang perempuan, bagi Shifu dan Tong Ge, aku tetap gadis kecil mereka. Dan memang, dalam menghadapi makluk tak wajar—seperti yang akan dihadapi—aku sungguh tak punya pengalaman.

Di desa ini, kami memilih istirahat di paviliun kayu yang pintunya sudah hilang. Tanpa diperintah, Bao Jin telah mencari kayu dan menyalakan api unggun bagi kami. Shifu menganggukkan kepala membenarkan tindakan Bao Jin. Lalu kata Shifu, “Kita tidak tahu bagaimana di luar desa saat ini. Malam ini, kita bermalam saja di sini. Lingyan, usahakan untuk tidur. Jangan membantah! Lainnya mohon dipikirkan bagaimana bergilir jaga.”

Aku tak mungkin berkata, membantah beliau. Sudah kukatakan, aku bisu. Tapi beliau tetap berkata demikian padaku. Jadi sesungguhnya ini rahasia kami mengapa beliau sampai perlu berkata demikian. Ya, rahasia kami. Sekarang, sebelum Shifu memarahiku, lebih baik aku berusaha agar dapat tidur secepatnya. Beliau pasti membutuhkan kesiapanku ketika musuh kami datang nanti.

-*-

Xuanli

Bukan karena ceroboh. Da Shixiong justru telah memikirkannya masak-masak. Mungkin, ini juga terhitung sebagai usahanya untuk memperbaiki kesalahan, yaitu dengan berbuat kebajikan-kebajikan seperti sekarang. Berusaha menyelesaikan masalah yang menimpa desa ini walau tiada orang yang meminta pada kami.

Toh, ada Lingyan. Dengan perpaduan guru-murid yang indranya bisa dikatakan saling melengkapi tersebut, aku yakin ‘para bajingan kecil’ yang mengusik desa cepat teratasi.

Saat ini, kami duduk berenam mengelilingi api unggun yang tadi dinyalakan Bao Jin. Mengelilingi api unggun di musim semi dan dengan nuansa mistis mengelilingi kami, membuatku teringat kala pertama kalinya aku menyadari bakat Lingyan. Aku merasa pada saat itupun Da Shixiong sudah menyadari kelebihan Lingyan ini. Namun ia hanya diam, menunggu adanya pembuktian.

Waktu itu, belum seberapa lama setelah kedua anak itu menjadi muridnya. Di belakang perguruan kami, dalam hutan rimbun pada tebing gunung beberapa kali dipakai orang untuk bunuh diri. Di sana kami melihat Lingyan nangis terisak-isak. Susah payah kami menenangkan dan menanyakan sebabnya. Dari kakaknya barulah kami mendapat kepastian bahwa indra Lingyan lebih peka dibanding manusia normal, seperti Da Shixiong.

Malam terus beranjak. Saat ini tanggal delapan, bulan separuh. Sinarnya yang pucat sudah tampak di langit, temaram. Begitu temaram hingga tak mampu mengalahkan kekuatan pancaran cahaya dari api unggun kami.

Menuruti perintah gurunya, Lingyan berbaring dan berusaha agar bisa tidur. Xuanjing sendiri setelah memberi perintah, mengatupkan matanya dalam posisi duduk tegak. Aku juga memilih istirahat. Bao Jing dan Bao Feng telah menawarkan diri menjaga di giliran pertama.

-*-

Lingtong

Shifu dan Meimei tidak tidur. Jangan tertipu pada nafas mereka yang panjang seolah tidur nyenyak.

Tidurku terganggu dengan suara obrolan Bao Jin dan Bao Feng di sudut. Tak jelas apa yang dibicarakan karena di telingaku hanya terdengar bagai desau saja. Desau yang membuatku penasaran dengan isi pembicaraannya.

Aku terbangun dengan hanya melihat sekitar dari sudut mata yang tak penuh dibuka. Memang, aku tak ingin membuat orang lain tahu aku tidak lagi tidur. Dari sudut mata pula, aku dapat mengawasi Meimei yang berbaring di sisiku dan Shifu di hadapan.

Mendadak Meimei terbatuk membuatku tersentak kaget. Jantungku berdebar kencang. Tapi, kulirik Shifu, ia tidak menampakkan sesuatu yang aneh. Mungkinkah Meimei hanya tersendak ludahnya sendiri?

Angin semilir yang bertiup terasa dingin di kulit, menggigit. Pepohonan berdesau dan pasir di tanah yang beterbangan membuat suara deru yang samar. Sungguh, aku berharap musuh kami adalah manusia biasa. Jika seorang atau beberapa orang manusia, aku yakin kekuatan kami berenam bisa melumpuhkan mereka. Tapi jika makhluk lain …. 

Aku kembali mengatupkan mata, memasuki keheningan. Kuharap bisa melakukan sesuatu guna membantu Meimei dan Shifu.

-*-

Xuanli

Aku melihatnya. Makhluk yang tak begitu jelas, entah burung gagak ataukah manusia bersayap dan berparuh burung. Makhluk itu berbadan besar, setinggi manusia. Tapi ia berkaki burung dengan badan serupa manusia. Ini jelas adalah yao.

Ketika melihat makhluk itu, Xuanjing dan Lingyan tengah menghadang jalan dia. Pedang Lingyan tersarung rapat, tampak tak berencana menggunakan. Da Shixiong berdiri tegak bagaikan patung yang tak bergerak sekalipun angin bertiup.

Mereka tampak terlibat dalam sebuah perundingan alot. Aku tak dapat mendengar.Karena ketika melihatnya, ketiganya sudah dalam perundingan, tak baik jika mendekati dan turut campur, apalagi hanya untuk menguping. Sepasang guru-murid itu harusnya dapat mengatasi.

Aku hela nafas dalam di tempatku mengawasi. Batang pohon berumur seratusan tahun kiranya. Cukup besar untuk menyembunyikan badanku yang tidak sekecil Lingtong.

Perundingan gagal tanpa titik temu. Mata mereka yang saling melihat dengan tatapan dalam membuat aku dapat memastikan yang mereka tandingkan saat ini adalah kekuatan tenaga dalam. Pastinya Da Shixiong. Lingyan masih terlalu lugu dan belia untuk pertarungan semacam itu. Apalagi belum lama ini ia terluka.

Selagi itu, datang lagi makhluk lainnya yang tidak kalah mencengangkan dari model rupa dan bentuk. Kedatangannya sialnya tak disadari oleh Lingyan sehingga dapatlah ia ‘hadiah’ perkenalan berupa serangan tenaga dalam. Lingyan terbatuk tiga kali. Untung saja kekuatan makhluk kedua tak seberapa tinggi atau mungkin disembunyikannya kekuatan asli.

Kesal karena dicurangi, Lingyan mencabut pedang dan menyerang makhluk kedua bertubi-tubi. Ia tampaknya sudah melupakan pesan kami untuk bertarung dalam pikiran tenang. Sungguh membuatku cemas.

Kecemasanku seketika berakhir ketika kulihat Lingtong bergabung dengan Lingyan dan memukul lawan dengan serangan bertubi-tubi begitu ganas. Sudah pernah kukatakan, mereka berdua bagaikan dua mata pada sebuah pedang. Kesatuan mereka akan menghasilkan hasil yang menakjubkan dan mengerikan. Bagus jika ternyata Lingtong juga dapat bergabung dan menghajar makhluk kurang ajar semacam mereka itu.

Sudah waktunya aku menampakkan diri. Berdiri di sisi Xuanjing, kami bersiap bertarung melawan mereka.

-*-

Lingyan

Ketika kubuka mata, pertama terlihat adalah Bao Feng yang wajahnya hanya berjarak sekian cun[3] dariku. Wajah itu tampak kuatir dan bingung. Tak tahu apa yang membuat ia melakukan itu. Kemudian, erangan Tong Ge terdengar. Tong Ge segera duduk tegap dengan tangannya menghalangi pandangan Bao Feng padaku.

“Mengapa tidurmu sangat aneh?” tanya Bao Feng padaku. “Tampak tidak tenang. Kamu mimpi seram? Apakah karena aku pernah melukaimu?” tanpa mengangguk ataupun menggeleng, aku hanya menoleh pada Tong Ge berharap ia menyampaikan jawabanku. Aku bingung bagaimana menjawab. Kukira sampai waktu itu ia tak tahu bahwa aku bisu. Ia sepertinya menduga aku hanya tak suka bicara.

“Saat kalian tertidur tadi, aku merasakan angin dan hawa aneh menyelimuti tempat ini,” katanya tanpa menunggu jawabanku. “Kau dan kakakmu berkeringat dan berguman. Benar-benar aneh. Apakah karena tempat ini tidak senyaman kamar kalian di perguruan?”

Aku menggelengkan kepala dan mendorongnya agar cukup menjauh dariku sehingga bisa membetulkan posisi badan dan duduk dengan benar. Dia beranjak sedikit namun tetap berada di sisiku. Wajahnya begitu penasaran ketika tetap memandangiku lalu mendadak dia beralih memandangi Shifu seperti teringat sesuatu. “jadi, tadi–?” tanyanya tertahan. Seolah ada kekuatan lain membungkam mulutnya hingga tak dapat melanjutkan pertanyaan.

Shifu hanya diam, tak menjawab. Tak seberapa lama Shifu mendesah dan berkata, “Kita coba cari penduduk desa ini.” Kemudian ia berdiri dan mendahului kami.

-*-

Xuanjing

Melihat bagaimana Bao Feng memperhatikan Lingyan, sudah jelas pemuda itu telah terpikat hatinya. Akan tetapi, Lingyan masih terlampau polos hingga tidak mengetahui atau mungkin terlalu acuh.

“Ya. Lalu aku mendengar kau mengerang. Sekali. Dua kali. Seperti sangat marah,” suara Bao Feng terdengar di belakang saya bersama langkah kaki lima orang. Apakah ia telah kembali menjadi Bao Feng yang saya kenal dulu? Ataukah perubahan ini hanya sementara karena di sini ada seorang gadis yang telah memikat hatinya?

“Lalu tangan dia bergerak-gerak dan mulutnya komat-kamit,” lanjut Bao Feng. “Shifu?” kali ini suara Lingtong. Lalu tidak terdengar suara apapun lagi selain derap langkah yang semakin cepat dan semakin mendekati saya.

Di beberapa rumah, pada balik dipan ataupun meja, biasanya terdapat lubang untuk menyimpan persedian pangan yang bisa digunakan sebagai tempat bersembunyi. Mudah-mudahan masih ada penduduk desa ini di dalam sana. Saya memang berencana mencari mereka di tempat-tempat seperti itu.

Shifu!” seru Lingtong memanggil. Tangannya menunjuk ke arah celah pada lantai tanah yang dikeraskan pada sebuah rumah. Celah tersebut memang terlihat janggal karena tampak baru saja ditutup dengan sekenanya dan terburu-buru. Saya menganggukkan kepala. Benar, ternyata di dalam sana, ada tiga orang anak yang tertua, umurnya sekitar belasan tahun. Tak seorang pun orang dewasa di dalam sana. Lingtong masuk ke dalam membujuk mereka agar keluar. Badan saya dan Li tak akan muat di mulut lubang persembunyian tersebut.

Setelah berhasil dibujuk keluar dan yakin kami juga manusia seperti mereka, berceritalah yang paling tua ke kami. Tentang siluman burung dan kawannya yang menyantroni desa mereka beberapa hari terakhir. Siluman tersebut menculik hampir seluruh penduduk desa yang jumlahnya tak sampai seratus keluarga. Jadi mungkin masih tertinggal anak-anak lain yang disembunyikan orangtuanya di dalam lubang seperti mereka itu.

Saya bertekad menunggu mereka kembali. Hawa ketiga anak ini juga kami berenam pastinya terendus begitu jelas di penciuman mereka. Terlebih, Lingyan dan Lingtong yang dapat dikatakan sebagai pemilik jiwa murni.

Saya dan Li juga belum puas memanaskan badan. Pertarungan tadi belum usai karena kedua siluman kabur dari kami.

-*-


[1] Ibu/mama

[2] Beberapa jenis makluk jejadian. Yao adalah siluman, binatang yang menjadi manusia dengan wujud tidak sempurna. Jing adalah benda mati maupun binatang yang berwujud manusia. Guai disebut juga monster dan mo dalam kalimat ini dialihbahasakan sebagai mara (luar ataupun dalam)/setan

[3] Dalam ukuran sekarang 1 cun sekitar 3,3 cm

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: