Lanjut ke konten

4 – Perkara Dunia Di Manapun Bagai Air Mengalir[1]

Lingyan

Aku tak tahu apa yang sedang dialami Shifu di ruang tamu. Kediaman ini begitu luas hingga tak ada suara dari ruang tamu terdengar dari tempatku berada ini. Ataukah aku sengaja ditempatkan di kamar yang paling jauh dari tempat Shifu? Aku mulai merasa mengkhuatirkan beliau. Apa yang akan mereka lakukan pada Shifu? Sesungguhnya apa saja yang telah Shifu perbuat pada mereka dahulu?

Seorang perempuan yang usianya mungkin di atasku lima tahun tadi menghampiriku dan berusaha mengajakku berbincang. Tapi apa daya, aku tak dapat berkata dan tak ingin seorangpun tahu aku sebenarnya bisu. Karenanya, aku hanya duduk diam di sini dan ia pun akhirnya terdiam hingga pada akhirnya sebuah keriuhan menyadarkan kami dari bisu. Ia menghambur keluar, demikian pula aku.

Shifu tak ada lagi di ruang tamu. Ia justru berada di halaman depan dengan posisi siaga dan penuh konsentrasi. Aku mencari siapakah musuh shifu. Mengapa pertemuan yang seharusnya menjadi akhir dari pertikaian berbuah perkelahian macam ini? Hawa tak menyenangkan terendus. Tapi ini berbeda dengan yang kami temui di dusun bawah gunung. Hawa ini berasal dari sesuatu yang penuh dengan kebencian dan dendam.

Kudengar Bao Feng berteriak, “Fuqin[2]! Tenanglah, Fuqin! Fuqin!” Akan tetapi pria yang ditenangkannya itu justru semakin emosi. Di halaman tersebut terdapat sebuah meja yang kelihatan terbuat dari batu. Penampang meja tersebut cukup besar, pastilah sangat berat. Dengan satu tangan meja tersebut diangkatnya tinggi hendak dilemparkan pada Shifu. Aku seperti tercekik karena melihat itu.

Shifu menghindar dengan cerdik dan tanpa ada usaha melukai pihak lawan. Mungkin karena rasa bersalahnya. Nafasnya masih tetap teratur dan panjang, pastilah ia sudah tahu bagaimana mengatasi orang tersebut.

“Lingyan, tangkap dia! Jangan lukai sebatang rambutpun!” perintah Shifu terdengar. Lantas aku bergerak sesuai perintah beliau.

-*-

Xuanjing

Suasana menjadi semakin ricuh. Para pelayan kebingungan mendapati tuannya berubah seperti itu. Nyonya muda maupun anak-anak histeris tak menentu. Kasak-kusuk terdengar nama saya disebut sebagai biang keladi kericuhan ini.

Si ‘Tao Yuanming’ masih berusaha melempari saya dengan segala sesuatu, benda besar dan seberat apapun. Ulahnya membuat saya hanya bisa mengelak dengan segala daya upaya. Lingyan juga masih terus berupaya menangkap dia dan membuatnya terdiam. Jika ia bisa diam, semua bisa dikendalikan.

Di saat bersamaan, seorang penjaga gerbang datang tergesa-gesa melapor pada majikan. Bao Feng yang menerima laporan. Seketika itu pula, raut muka Bao Feng berubah. Ia berkata pada orang tersebut dengan berbisik dan menutupi mulutnya dengan tangan sehingga saya tak punya kesempatan membaca gerakan bibirnya. Penjaga itu mundur kemudian lari kembali ke gerbang.

Seandainya ada Xuanli, pikir saya seketika. Kesabaran saya sudah begitu menurun hingga ingin membuatnya pingsan agar dapat berikan pertolongan padanya. Shifu mengajarkan kami bagaimana mengobati gangguan kejiwaan. Tapi, Xuanli jauh lebih mahir daripada saya karena lebih lama ikut Shifu – karena tidak kabur seperti saya hingga perlu dijemput paksa. Untung saja dalam perjalanan kali ini, Shifu meminta Xuanli menemani saya. Kalau saja Lingyan tidak pernah mengalami ‘kecelakaan’ hingga melukai indra bicaranya, ia bisa meminta Bao Feng agar memberikan undangan masuk kediaman Bao pada Xuanli.

Dulu, ketika mereka mencari saya yang menghilang dari perguruan, ia berkeliling dengan Shifu untuk membantu masyarakat yang membutuhkan pertolongan. Shifu kami juga bisa disebut sebagai salah satu penerus ilmunya Ge Hong, seorang Taois yang juga seorang tabib dan tenar sebagai taois aliran neidan[3]. Saya menduga, ia sudah menguasai hampir semua ilmu pengobatan Shifu. Terdengar di luar gerbang menjadi riuh. Ada nama saya disebut di antaranya. Tapi bukan nama Xuanjing yang disebut melainkan nama tenar saya di masa lalu, jauh di masa lalu.

Mereka sudah tahu saya berada di sini dan sepertinya juga turut meminta pertanggungjawaban saya. Kepergian kali ini sebenarnya juga membuat saya tahu bahwa keponakan saya yang menjadi tawanan Da Song sudah meninggal. Mungkin, orang-orangnya Zhao juga merasa terancam dengan nama saya yang kembali disebut-sebut sehingga bisa jadi ada tentara-tentara Da Song yang menyamar di antara orang-orang itu.

Kami mungkin punya kontak batin, Xuanli mendadak terlihat di koridor. Ia berjalan masuk dari arah belakang rumah bersama Lingtong. Tak mungkin bertanya bagaimana ia bisa masuk dalam waktu seperti sekarang. Mungkin nanti. Dia, walaupun kakinya tak begitu sempurna, tangannya sangat gesit untuk mengatasi ‘pasien’ bengal yang berontak.

Tanpa perlu dikomando, dengan sigap Xuanli membantu Lingyan ‘menundukkan’ si ‘Tao Yuanming’. Saya menarik nafas lega dengan kedatangannya.

-*-

Xuanli

Tak seberapa lama, setelah Lingyan pergi, Bao Jin datang tergesa-gesa. Ia tiba di hadapanku dengan basah keringat dan nafasnya panjang-pendek seolah lari dari sesuatu. Bahkan, ia tak seperti pelayan dari rumah-rumah orang kaya karena lupa sopan-santun dengan tidak menyapaku terlebih dahulu. Ia langsung berkata seperti, “Masalah! Masalah besar!” dengan tangannya menunjuk ke arah kediaman mereka. Tanpa disuruh, Lingtong dengan sigap membawakan tasku lalu kami tergesa-gesa pergi.

Kakiku tak begitu sempurna karena kelainan sejak kecil. Kali ini telah membuatku perlu dibantu oleh Lingtong agar bisa sesegara mungkin mencapai kediaman keluarga Bao. Terkait kakiku, kelainan tersebut karena orangtuaku miskin, tak mampu memberikan anak-anaknya makanan yang baik. Ditambah lagi orangtuaku mempunyai beberapa anak sehingga makin menyulitkan mereka untuk memberikan kami makanan yang bergizi. Beberapa kakak perempuan akhirnya dijual sebagai pelayan melalui perantara. Aku tak pernah bertemu mereka lagi setelah itu. Entah apakah saat ini mereka masih hidup ataukah sudah mati. Entah pula apakah mereka hidup baik-baik atau sengsara seumur hidup

Ketika umurku sekitar sepuluh tahun, Shifu saat itu tengah merantau demi mencari murid pertamanya yang kabur. Beliau – entah kebetulan atau memang sudah takdir kami bertemu – melewati kampung kami. Dengan segera Shifu terlihat menyukaiku saat mampir minta minum di rumah kami. Saat itu juga, orangtuaku dengan bersuka hati menyerahkan aku pada beliau. Sejak saat itu aku mengikuti Shifu kemanapun beliau pergi.

Di kediaman Bao, muka gerbang utama sudah penuh orang. Hampir semua menyerukan sebuah nama. Jelas, itu adalah nama Da Shixiong ketika masih pongah dengan status bangsawannya dan mengacau dunia dahulu kala. Kami bertiga melipir ke jalan kecil dengan berusaha tidak terlihat orang-orang itu untuk masuk melalui pintu belakang, pintunya para pelayan.

Aku mengeluarkan tali dan melemparkannya ke arah Xuantong. Dengan sekali loncat, pemuda tersebut dapat mengalungkan tali ke tangan kiri Tuan Besar yang tengah mengamuk. Di sisi lain, aku menggunakan tali lain untuk mengendalikan tangan dia satu lagi.

Aku serahkan ujung tali yang kupegang pada Lingyan lalu mengeluarkan jarum yang kupunya untuk menekan kesadaran sang Tuan Besar.  Aku pandangin Da Shixiong, dari mukanya terlihat merasa bersalah. Ia terduduk lemas segera setelah itu. Sama sekali tak berkata apapun, bahkan tak bertanya apapun. Aku mendesah sebelum menginstruksikan pada Lingyan dan Lingtong kemudian Bao Feng.

“Lihat,” kataku pada Bao Feng “bagaimana mungkin mereka bisa tahu Da Shixiong ada di rumahmu?” Tapi, ia tak hirau. Perhatian dia saat itu hanya tertuju pada ayahnya. “Fuqin? Mengapa Fuqin?” tanyanya. “Salahku. Ini salahku ….” Dugaanku, ia mencari Da Shixiong tanpa sepengetahuan keluarganya.

Karena ia menjadi diam, aku pun kembali acuh padanya dan kembali melihat kondisi si Tuan Besar. Aku sudah meminta orang-orang mereka agar menidurkan Tuan Besar di kamar lalu kami – kecuali Da Shixiong – menyusul mereka.

Gangguan emosi adalah biang keladinya. Aku dapat membayangkan bagaimana ia menahan kemarahan dan kesedihannya selama belasan tahun ini. Pernikahan Bao Yanghua waktu itu sesungguhnya juga bagus untuk mengembangkan koneksi keluarga mereka. Da Shixiong membuat impiannya sirna secara total karena putrinya bunuh diri setelah tunangannya terbunuh dan gadis itu merasa terhina karena ‘disentuh’ Xuanjing. Waktu itu, terus terang, Xuanjing memang sudah keterlaluan. Walaupun ia belum sampai menyetubuhi perempuan muda tersebut, kelakuannya sudah pasti akan membuat perempuan terhormat manapun merasa dihina.

Bila dalam melakukan pengobatan ini ia sadar dan langsung melihat Xuanjing, aku tak tahu apakah akan membaik atau malah memburuk. Lebih aman orang tersebut berada di luar jarak pandang si Tuan Besar.

-*-

Lingtong

 Setelah kami dapat melumpukan si Tuan Besar, Shishu memeriksa dan kemudian membuat resep obat. Resep tersebut diberikan pada Bao Jin agar menebusnya di toko obat bila mereka tak punya stok.

Aku dan Lingyan disuruhnya diam melihat dan mendengar kata-katanya setiap waktu. Setiap isi resep disebutkan dengan jelas dan detail pada kami termasuk titik mana saja yang perlu ditusuk jarum. Shifu terlihat berdiri diam di luar ruangan lalu bayangannya menghilang seiring dengan teriakan di luar yang semakin keras. Saat yang sama, mendadak Lingyan menghilang membuatku kalang kabut, cemas.

Untung saja Shishu mengizinkan aku keluar untuk mencari adikku. Mungkin ia juga kuatir adikku telah menyusul Shifu. Ternyata memang benar.

Shifu di luar gerbang dan adikku berdiri tak jauh darinya di tempat tak terlihat oleh orang luar karena tertutup bagian gerbang. Shifu waktu itu sedang berkata seperti ini pada orang-orang itu, “Kami ke keluarga Bao karena saudara Bao Feng telah mendengar ilmu pengobatan guru kami telah diturunkan pada Shidi Xuanli. Saya pergi hanya untuk menemani Shidi.”

Aku bingung mendengarnya. Lalu kudengar Bao Feng tiba-tiba menimpali, “Semenjak Dajie[4] meninggal Fuqin telah sering mengeluhkan kepalanya yang sering sakit. Karena aku mendengar ilmu pengobatan Xu[5] Daoshi[6], aku mengundangnya agar dapat ke mengunjungi kediaman kami.” Sampai di situ ia terdiam sejenak seolah memikirkan sesuatu dan bingungku tambah menjadi. Tak seberapa lama, ia baru melanjutkan, “Adapun mengenai Liu Daoshi ini … sungguh saya tidak tahu masa lalunya dengan para kerabat di sini, semuanya. Saya sesungguhnya mengizinkan beliau ikut serta agar murid perempuannya mendapat izin untuk ikut berkunjung ….”

Setelah kata-kata tersebut, mendengar kelanjutannya membuat saya merasa buram. Adikku masih sangat belia. Apakah ia ingin balas dendam pada Shifu lalu melampiaskan pada kami, murid-muridnya?

-*-

Xuanjing

“ … Karena aku ingin mengenalkannya pada keluargaku.” Kalimat terakhir yang dicucapkan Bao Feng ini membuat saya merasa pusing. Memang, saya sengaja menutupi kejadian belasan tahun lampau untuk menjaga muka mereka. Bila orang-orang tahu kejadian sebenarnya dari hilangnya pasangan ‘Buntalan Emas’, kehormatan keluarga Bao akan tercoreng. Saya akan lebih merasa bersalah karenanya. Akan tetapi, yang baru dikatakan Bao Feng ini dengan kata lain melamar murid saya di muka umum. Bila saya bersikeras tidak meluluskan permintaannya, nama keluarga Bao juga akan terdengar memalukan.

Saya memandanginya dalam diam. Sementara itu terdengar kasak kusuk di antara mereka yang mencari saya itu sampai akhirnya terdengar gertakan keras dari salah satu orang. Seorang laki-laki berumur empat-lima puluh tahunan,“Heh, marga Liu! Apa pertanggungjawaban atas kelakuanmu bertahun-tahun itu?!”

Apa saja yang saya lakukan di masa lalu? Terus terang, sejauh ingatan, saya pernah memerkosa, pernah pula membunuh orang. Waktu itu saya berkelahi dengan orang itu mati-matian. Saya sendiri terluka cukup parah nyaris mati. Bila tidak salah, saat itu umur saya masih belasan tahun dan belum menerima ritual kedewasaan. Peristiwa itu yang mempertemukan saya dengan Shifu pertama kali.

Masa itu, beliau masih berkelana seorang diri. Belum ada Xuanli. Beliau memperpanjang nyawa saya dengan bayaran saya menjadi muridnya dan ikut dia. Saya bengal. Setelah sembuh, saya kabur darinya. Masa itu, saya masih menikmati kejayaan sebagai keturunan bangsawan Da Han, tak mau bermiskin ria mengikuti Shifu yang kala itu tidak ada tempat untuk menetap. Perguruan tempat kami tinggal memang baru berdiri beberapa tahun sebelum beliau berhasil menemukan saya yang kedua kalinya.

Saya menghela nafas baru menjawab, “Selama muda, saya memang telah banyak melakukan kesalahan. Bertahun-tahun ini saya menjadi sungguh menyesalinya. Sepanjang sisa hidup ini, saya telah lama tidak keluar dari perguruan. Sehari-hari mengisi waktu untuk berdoa dan membaca kitab-kitab ajaran pendahulu serta mengajari kedua murid yang dititipkan Shifu pada saya. Karena itu,” yang terakhir, sembari berkata, saya menekuk lutut perlahan.

Sebagai taois, kami berlutut tidak dengan satu kaki ditekuk baru diikuti kaki lainnya, tidak. Kami berlutut dengan kedua kaki bersamaan ditekuk yang mana lebih membutuhkan keseimbangan tubuh – juga lebih melelahkan sebenarnya. “Dengan ini saya memohon ampun dari saudara sekalian atas kesalahan-kesalahan saya di masa lalu,” saat selesai mengatakan itu saya sudah dalam posisi berlutut dan segera menghaturkan tiga kali kowtow.

-*-

Xuanli

Kedua murid itu pergi tak juga kembali membuatku akhirnya menyusul mereka. Sampai di dekat gerbang, aku melihat sendiri Da Shixiong yang dulu sangat angkuh itu tengah berkowtow di hadapan orang-orang. Perubahannya memang sangat besar dibanding saat aku dan Shifu menemukannya di kediaman keluarga Bao hampir menggauli seorang gadis, bertahun-tahun lalu.

Setelah kasak-kusuk tak jelas, mendadak ada dua orang laki-laki berbadan tegap yang ternyata telah menawan Lingyan menyibak kerumunan. Mereka separuh menyeret Lingyan berjalan mendekati Da Shixiong hingga sampai beberapa puluh langkah jaraknya dari Xuanjing.

Tak hanya aku, Xuanjing serta Lingtong juga pasti sangat terkejut. Keterkejutan itu membuat Lingtong serta merta telah keluar dari persembunyian dan berdiri lebih maju dari Xuanjing minta adiknya dibebaskan. Ternyata pula, Bao Feng juga bereaksi karena kejadian itu. Ia memanggil Bao Jin entah hendak mengatur strategi apa sebab saya tak dapat melihat gerakan mulutnya. Tapi, salah satu dari orang itu mengeluarkan sebuah plakat. Aku tak dapat melihat jelas dari tempatku berdiri yang jelas keluarnya plakat tersebut telah membuat Bao Feng tidak berani bertindak.

Lingtong melirik ke arah Da Shixiong. Orang yang dilirik akhirnya berkata dengan jelas dan tegas. “Marga Liu adalah yang ini,” katanya menunjuk diri sendiri. “Murid saya bukan orang Han. Lepaskan dia!”

Karena kata-kata itu, aku menjadi tahu bahwa dua orang itu tentunya tentara Da Song yang menyamar. Bangsawan Da Han satu ini telah lolos bertahun-tahun dari pengawasan mereka. Siapa yang akan merasa tenang bila orang seperti itu mendadak muncul ke permukaan bagaikan bisul yang telah mengeras?

Da Shixiong memang sangat bengal dan pongah akan tetapi ia memiliki pengetahuan yang luas. Ia menguasai beberapa kitab strategi perang bahkan memiliki ilmu bela diri yang memadai. Berdasarkan pengamatanku, ia nakal sebagai wujud pemberontakan terhadap orangtuanya. Entah apa keinginannya yang tidak dipenuhi sampai perlu memberontak sedemikian rupa. Jadi sebenarnya, tak terlalu sulit bagi Da Shixiong untuk membentuk aliansi bila hendak memulihkan kejayaan keluarga besarnya. Itulah yang ditakutkan kaisar dari dinasti baru ini.

Berkebalikan dengan itu, mungkin kebanyakan orang biasa yang awalnya menuntut pertanggungjawaban akhirnya bisa mengampuni kesalahan Da Shixiong. Aku tak jelas apakah karena tiga kali kowtownya yang terlihat sungguh-sungguh dan tulus. Pokoknya secara perlahan mereka membubarkan diri Tinggal orang-orang pemerintahan ini, bagaimana harus ditangani?

-*-

Lingyan

Agar aku bebas, Shifu dibawa oleh mereka. Salahku terlalu tolol tak sadar ada dua orang yang menyamar sebagai pelayan kediaman Bao menyergapku dari belakang. Mendadak aku setengah sadar dan sudah di tangan mereka.

Aku mengawasi mereka mengikat Shifu dengan tali lalu menggiringnya beranjak dari kami.

Shifu …. SHIFUUU!” jangankan Gege, aku pun sebenarnya kaget mengapa mendadak bisa berteriak dan suaraku keluar. Tapi aku tak begitu peduli karena mendadak merasa akan kehilangan Shifu selamanya.

Aku kehilangan suara ketika Niang pergi selamanya ketika rumah kami didatangi penjahat. Gege selama bertahun-tahun selalu berkata padaku Niang menjadi bintang di langit. Shigong pernah memeriksa kondisiku saat pertama kali sampai ke perguruan dan beliau membisu saat ditanya Gege apakah aku bisa pulih. Di tahun-tahun setelahnya, Gege tampak telah menyerah atas kondisiku itu. Kami tak punya harapan akankah suatu saat aku dapat bersuara lagi.

Aku melihat Shifu mendengar teriakanku. Ia menoleh dan matanya menjadi basah. Namun dua orang itu terus memaksanya menjauh sampai tak lagi terlihat olehku. Setelahnya aku digandeng Gege hendak pergi ke penginapan. Tapi Shishu menahan, demikian juga Bao Feng. Mereka mengatakan sebaiknya kami tetap tinggal di kediaman Bao karena Shishu juga masih punya tanggung jawab terhadap Tuan Besar, ayah dari Bao Feng.

-*-


[1] “世事漫随流水”dari puisi 昨夜风兼雨 oleh李煜

[2] Panggilan formal untuk ayah

[3] Aliran taoisme yang berfokus pada pelatihan diri melalui meditasi dan sebagainya.

[4] Kakak perempuan tertua.

[5] Xuanli adalah nama pemberian gurunya. Taoisme tetap mempertahankan marga masing-masing pengikutnya karena faktor menghormati leluhur. Jadi, seseorang yang masuk Taois akan punya setidaknya nama kecil (nama pemberian orang tua saat bayi), nama dewasa (nama yang diberikan saat ritual kedewasaan) dan nama taois (nama yang diberikan saat resmi berguru)

[6] Bisa diartikan sebagai pendeta Tao. Arti sebenarnya adalah pembelajar Tao.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: